Nada Yang Menjaga Rumah
Ada masa ketika waktu berjalan lebih pelan, dan kebahagiaan terasa sederhana. Tahun-tahun itu tersimpan rapi di sudut ingatan saya—di sebuah rumah di Jalan Anggur No. 3, Pisang Candi, Malang. Saat itu saya masih berusia tujuh tahun. Dunia belum luas, tapi sudah terasa lengkap.
Setiap pagi, siang, dan sore, ada satu suara yang setia menemani: radio transistor milik orang tua. Dari benda kecil itulah mengalun lagu I Gotta Know What’s Going On, dibawakan oleh The Cats. Suaranya kadang tidak jernih, sedikit berdesis, tapi justru di situlah letak kehangatannya—seolah menyatu dengan napas rumah kami.
Di saat anak-anak bersiap ke sekolah, saat matahari mulai meninggi, atau ketika sore mulai turun perlahan, lagu itu hadir seperti teman lama. Ia tidak pernah mengganggu, justru seperti mengerti kapan harus mengalun pelan, mengisi ruang tanpa memaksa.
Di sisi selatan rumah, terbentang lahan pematang sawah. Angin yang datang dari sana membawa aroma tanah dan daun, menyusup ke sela-sela jendela dan pintu. Suasana itu menciptakan harmoni yang tak tertulis—antara alam, keluarga, dan musik yang mengalir tanpa henti.
Di dalam rumah, ada Bapak Sumaryon dan Ibu Rahajeng Kusmiatun. Ada pula dua adik kecil saya, Hary dan Hendy. Kami hidup dalam ritme yang mungkin sederhana, tapi penuh makna. Tawa kecil, obrolan ringan, langkah kaki yang berlalu-lalang—semuanya berpadu menjadi satu kesatuan yang utuh. Kadang sepupu-sepupu datang, dan rumah terasa lebih ramai, lebih hidup.
Lagu itu, tanpa kami sadari, menjadi saksi. Ia hadir di setiap kebersamaan, mengikat momen-momen kecil menjadi kenangan yang besar. Ia tidak hanya bercerita tentang cinta seperti dalam liriknya, tapi juga tentang rumah—tentang rasa aman, tentang kehadiran orang-orang yang kita sayangi.
Kini, waktu telah membawa segalanya berjalan jauh. Banyak hal berubah, banyak yang tak lagi sama. Namun setiap kali lagu itu terdengar kembali, seakan pintu lama terbuka perlahan. Saya kembali menjadi anak kecil di rumah itu. Kembali mendengar suara radio, merasakan angin dari sawah, dan melihat orang-orang yang saya cintai masih ada di sana.
Barangkali, itulah kekuatan sebuah lagu. Ia tidak hanya didengar, tetapi disimpan. Ia menjadi penjaga kenangan—menyimpan bukan hanya suara, tetapi juga rasa.
Dan di antara banyak hal yang telah berlalu, nada itu tetap tinggal. Mengingatkan bahwa pernah ada masa, ketika segalanya terasa utuh, hangat, dan penuh cinta.